Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bekasi, Rizki Topananda, mengusulkan sejumlah langkah strategis kepada Pemerintah Kota Bekasi guna mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya adalah normalisasi sungai serta pembangunan kolam retensi (polder) di lahan milik Perum Jasa Tirta.
Menurut Rizki, wilayah Harapan Mulya memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir karena letaknya yang berbatasan langsung dengan aliran sungai. Bahkan, banjir bisa terjadi akibat kiriman air dari hulu meskipun kondisi cuaca di wilayah setempat tidak sedang hujan.
“Wilayah Harapan Mulya ini berbatasan langsung dengan Sungai Bekasi. Jika terjadi luapan, apalagi kiriman air dari hulu, meskipun tidak hujan di sini, tetap berpotensi banjir,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, ada dua langkah utama yang diusulkan. Pertama, melakukan pengerukan sedimen atau normalisasi sungai guna meningkatkan kapasitas tampung air. Kedua, memanfaatkan lahan milik PJT untuk pembangunan kolam retensi sebagai penampung air sementara.
“Dengan adanya kolam retensi ini, kita bisa mengurangi bahkan meminimalisir dampak banjir akibat kiriman air,” jelasnya.
Selain itu, Rizki juga menekankan pentingnya pengerukan sungai untuk mencegah potensi longsor yang dapat mengancam makam serta permukiman warga di sekitar bantaran sungai.
Ia menyebutkan, usulan pembangunan polder akan diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada tahun ini, sementara Pemerintah Kota Bekasi akan fokus pada sinkronisasi program dan administrasi.
Sembari menunggu realisasi proyek tersebut, Rizki mengimbau masyarakat untuk turut melakukan langkah mitigasi mandiri, seperti membuat lubang biopori guna membantu penyerapan air.
“Setidaknya masyarakat bisa meminimalisir dampak banjir dengan cara sederhana saat hujan datang,” pungkasnya.