PHK Massal PT CWII Sragen dan Wajah Asli Fleksibilitas Kerja
Tepat 3 hari sebelum May Day 2026, sebanyak 1.184 buruh pabrik boneka, PT CWII Sragen kehilangan pekerjaan. Saat panggung Hari Buruh dipenuhi pidato dan selebrasi, ribuan buruh justru pulang dengan kecemasan.
PHK massal itu bukan sekadar “nasib buruh kontrak”, melainkan cermin dari kebijakan kerja fleksibel yang terus dipertahankan negara. Bentuknya, kini meluas dari pkwt, outsourcing, harian lepas, kemitraan, magang, hingga “relawan” di dapur MBG. Setahun lalu outsourcing dijanjikan akan dihapus, namun pada May Day 2026 justru kembali diperkuat lewat Permenaker No. 7/2026.
Kasus PT CWII menunjukkan rapuhnya posisi buruh dalam sistem ini. Sebanyak 849 buruh diputus kontraknya secara sepihak, sementara 335 lainnya tidak diperpanjang masa kerjanya. Buruh menjalani kontrak menahun tanpa kepastian karier maupun masa depan kerja.
Dampaknya tak berhenti di PHK. Banyak buruh akhirnya terdorong masuk ke sektor informal yang minim perlindungan. Data Sakernas BPS Februari 2026 mencatat pekerja informal mencapai 87,74 juta orang atau 59,42% dari total pekerja nasional, naik sekitar 3 juta orang dibanding Agustus 2025.
Dari kasus PT CWII Sragen terlihat wajah asli fleksibilitas kerja: mudah merekrut, mudah memutus. Tapi nyaris tanpa kepastian bagi buruh.
Jika arah kebijakan seperti ini dipertahankan, maka ketidakpastian kerja perlahan akan menjadi norma baru bagi dunia kerja nasional.
Tertanda,
Ais/Achmad Ismail
Koordinator GeberBUMN

